Langsung ke konten utama

The Power of Kepepet

Sudah lama rasanya saya "moksa" dari dunia kepenulisan, ya itu memang karena saya lumayan sibuk atau terlalu malas belakangan ini untuk menulis, walaupun masih membaca buku. Namun hal ini tak bisa dibiarkan, karena bagaimanapun juga, menulis dan membaca adalah dua hal yang bisa kita jadikan pengasah nalar. Ibarat sebilah pedang, maka otak kita harus terus digunakan dan kemudian diasah. Jika tidak, maka pedang ini akan keropos dan tidak akan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk itu, sebisa mungkin kita harus sering membaca dan menulis, agar nalar kita tidak keropos walaupun dimakan usia. 

Sedari awal saat saya mulai tidak menulis, ternyata ada banyak perubahan yang saya rasakan, mulai dari ketidakteraturan saya berbicara, pikiran kesana kemari, otak saya yang selalu menampung pengetahuan-pengetahuan dari luar namun tidak saya "buang" kedalam bentuk tulisan ataupun diskusi, terkadang membuat saya cepat lelah dan juga pusing yang berujung pada tidur pulas. 

Sebenarnya saya tidak terlalu suka tidur, karena dalam kitab legendnya anak pondok, yakni Ta'lim Muta'alim sudah dijelaskan jika orang ingin belajar itu harus mengurangi kenikmatan duniawi seperti tidur dan makan, maka dari itu saya sebisa mungkin mengurangi tidur, namun saya juga tidak menganjurkan untuk begadang jika memang tak perlu. 

Maksud kitab ini untuk kita mengurangi tidur dan makan adalah agar kita bisa lebih fokus pada proses belajar kita. Loh kok bisa

Jadi begini, sebagai makhluk yang normal, sudah sewajarnya jika manusia memiliki kemampuan yang unik-unik bahkan diluar dugaan dirinya sendiri, dan biasanya kemampuan-kemampuan seperti itu lahir dari situasi yang biasa kita namakan dengan "kepepet".

The Power of Kepepet ini memang sangat luar biasa, kadang jika ada orang yang dikejar anjing dan dia memang takut terkena gigitannya, otomatis orang itu bisa lari dengan cukup kencang. 

Jika dilihat dari kacamata psikologi, hal ini terjadi karena adanya sugesti di alam bawah sadarnya yang memberikan sinyal jika dirinya tidak lari maka dia akan digigit dan bisa terjadi penyakit rabies atau minimal rasa sakit yang teramat, dan jika dilihat dari kacamata Sains kondisi ini terjadi karena saraf pada otak yang bernama kelenjar pituitari ini mengirimkan sinyal kepada kelenjar adrenalin bagian medula adrenal, yang akhirnya mengakibatkan jantung berdegub kencang akhirnya memompa darah jauh lebih cepat ke seluruh tubuh, dan tubuh sudah bersiaga untuk menerima situasi darurat. Reaksi ini biasa kita sebut dengan rasa takut, oleh karenanya sinyal "rasa takut" ini jika terus berlanjut akan diterima oleh bagian-bagian tubuh yang lain dan menimbulkan reaksi merinding, deg-deg an, hingga puncaknya secara refleks orang tersebut akan lari sekencang mungkin. 

Nah, dari penjelasan tersebut, membuktikan jika tubuh kita ini sebenarnya sudah ada sinyal-sinyal yang secara otamatis bisa menyelamatkan kita sebenarnya. Perlu diingat, sinyal tersebut dilakukan oleh organnya masing-masing, dan bukannya mulut, karena mulut adalah organ yang paling sering berbohong. Maka benar saja kata Mas Firman "jika seseorang belum pingsan, maka orang tersebut berarti masih kuat menanggung beban."

Lalu hubungan antara sinyal rasa takut dengan proses belajar itu apa? Ya tidak ada sebenarnya, namun jika kita pahami secara lebih jauh, bisa kita temukan jika manusia ini adalah makhluk yang luar biasa sebenarnya, dengan catatan jika dirinya mau berusaha lebih keras lagi. 

Nah, dengan kata kunci "berusaha lebih keras lagi" inilah yang kemudian dipahami oleh syekh Tajuddin Nu'man bin Ibrahim bin al-Khalil al-Zarnuji atau biasa kita kenal dengan syekh az-Zarnuji yang berhasil menulis kitab Ta'lim Muta'alim yang salah satu poinnya adalah adab mencari ilmu itu harus mengurangi makan dan tidur, karena dalam situasi tersebut pelajar akan merasa dalam kondisi "kepepet" yang kemudian bisa meningkatkan fokus, kemampuannya dalam menalar, bahkan berada pada kondisi yang jauh lebih efektif daripada saat dirinya dilenakan dengan segala kenikmatan. 

Selain itu, menurut Syekh az-Zarnuji banyak makan dan minum akan menimbun banyak dahak yang kemudian bisa membuat seseorang malas (pendapatnya dalam Kitab Ta'lim Muta'alim), begitupun dengan tidur, jika tidur kita berlebih maka bukannya bugar, yang ada adalah badan kita akan pegal, mudah terserang penyakit dan juga mager

See you....

Komentar