Secara bahasa, Feminisme berasal dari bahasa latin yakni Femina yang berarti perempuan dan Isme yang berarti golongan/aliran/paham. Pada awalnya memang feminisme adalah sebuah gerakan yang berupaya untuk melawan pandangan patriarkis mengenai posisi subordinat atau gender ke dua yang terjadi antara tahun 1550-1700 di Inggris. Sedangkan feminisme gelombang kedua dimulai sejak tahun 1960an dan munculnya kelompok-kelompok conscious raising (CR) pada akhir 1960an.
Feminisme gelombang kedua di Amerika dibagi menjadi dua yakni kelompok kanan yang memperjuangkan terhadap partisipasi perempuan pada seluruh aspek kehidupan sosial dengan menuntut persamaan hak antara wanita dan laki-laki, sedangkan aliran Feminisme kiri atau biasa disebut sebagai feminisme radikal ini adalah feminisme liberal yang berfokus pada gerakan-gerakan revolusioner kaum wanita, gerakan yang muncul karena ketidakpuasan kaum wanita terhadap berbagai tindakan diskriminatif yang mereka alami, meskipun pada dasarnya emansipasi gender secara hukum dan politik telah dicapai oleh Feminisme gelombang pertama. Oleh karena itu isu yang diangkat oleh feminisme gelombang kedua ini lebih kepada isu-isu yang mendapatkan andil secara langsung pada kehidupan kaum perempuan seperti reproduksi, berumah tangga, hingga seksualitas. Salah satu konsep utama pada feminisme radikal ini adalah conscious raising dengan paham "the personal is political" yang percaya jika kekuasaan patriarki bekerja pada institusi personal seperti pernikahan, pengasuhan anak, dan seksualitas.
Di Inggris, kelompok kanan justru terbentuk kuat di kalamgan pekerja wanita, mereka menggencarkan aksi pemogokan untuk menuntut persamaan upah dari pekerja lelaki, sedangkan feminisme kiri sangat dipengaruhi oleh paham Sosialis Marxis. Kedua kelompok feminisme ini tidak terpecah seperti paham kanan dan kiri yang lain, melainkan mereka bersatu dan menyuarakan secara lantang terkait lersamaan hak pendidikan, upah, kesempatan kerja, pemasangan alat kontrasepsi gratis, hingga aborsi sesuai kebutuhan.
Salah satu ahli bernama Thornham menyimpulkan jika ciri dari perjuangan feminisme gelombang kedua baik di Amerika maupun Inggris bertitik fokus pada upaya untuk merumuskan teori yang mampu menaungi seluruh perjuangan feminis, yakni perjuangan pada partisipasi dan hak wanita diseluruh aspek sosial dan budaya masyarakat.
Akan tetapi, perjuangan feminisme gelombang kedua ini akhirnya banyak di kritik oleh banyak perempuan kulit hitam, lesbian dan kelompok perempuan pekerja yang membentuk sebuah gerakan radikal untuk memprotes feminisme gelombang kedua ini karena dianggap dalam setiap perjuangannya hanya memprioritaskan pada perjuangan kaum wanita kulit putih saja. Gerakan ini berkembang tidak terpaut jauh dari feminisme gelombang kedua yakni pada tahun 1960-1970an. Memang secara umum teori yang dibangun oleh feminisme gelombang kedua ini adalah perjuangan setengah ramalan dan setengah utopia, hal ini disebabkan karena pada setiap perjuangan feminisme akan selalu ada perbedaan antara kelas, etnis, ras, hingga budaya pada kelompok-kelompok perempuan tersebut, sehingga upaya feminis agar bisa mewakili seluruh aspirasi perempuan adalah sebuah hal yang terlampau utopis.
Ketidakpuasan akan perjuangan feminisme gelombang kedua kemudian memunculkan gerakan baru yang diberi nama Postfeminisme/Feminisme gelombang ketiga. Kelompok ini lahir pada akhir tahun 1980an dan setidaknya ada beberapa hal yang mendorong kemunculan gerakan feminisme gelombang ketiga ini, yang pertama adalah pada perjuangan feminisme sendiri yang hanya mewakili perempuan kulit putih kelas menengah dan mengesampingkan kelompok perempuan yang lain, hal ini menunjukkan jika feminisme sendiri sudah melahirkan konsep yang bersifat rasisal/rasis dan etnosentris. Kedua, feminisme kedua dianggap belum menyuarakan secara total isu sexual difference, sementara diluar feminisme sendiri telah berkembang teori-teori postmodernisme yang sejalan dengan perkembangan feminisme.
Dengan begitu, kemunculan kelompok feminisme gelombang ketiga inj dapat disimpulkan jika seluruh suara-suara yang termarginalkan dalam feminisme gelombang kedua dan disertai dengan perkembangan post-modernisme menjadikan feminisme gelombang ketiga menjadi sangat majemuk.
Sebenarnya, istilah post-feminisme sendiri sudah muncul sejak tahun 1920 pada sebuah artikel, istilah tersebut digunakan untuk merayakan atas keberhasilannya feminisme gelombang pertama dalam meraih hak pilih, istilah ini awalnya merujuk pada sikap pro atau berpihak pada perempuan namun tidak anti laki-laki. Akan tetapi istilah Post-feminisme muncuat kembali ke permukaan pada tahun 1980an dengan makna yang beraneka ragam, antara lain feminisme sebagai titik temu dengan post-modernisme, postkulturalime, dan postkulturalime. Ini menunjukan jika Post-feminisme adalah kajian yang lebih kritis terhadap feminisme itu sendiri. Selain itu, penyebutan Post-feminisme juga merujuk pada matinya feminisme gelombang kedua yang sudah dianggap tidak relevan lagi pada tahun 1980an.
Salah satu ahli yang bernama Gamble menilai jika Post-feminisme atau feminisme gelombang ketiga adalah reaksi dari perempuan kulut berwarna terhadap dominasi perempuan kulit putih dalam feminisme gelombang kedua dan menolak asumsi bahwa penindasan terhadap perempuan bersifat seragam dan universal.
Jika dilihat dari sejarahnya, feminisme sendiri Seperti mengacu pada sebuah aksi ataupun sebuah gerakan sosial dan politik yang berupaya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang dianggap sebagai gender kedua dan makhluk yang dinomor duakan setelah laki-laki, sedangkan wanita yang menganut paham ini disebut sebagai seorang feminis. Akan tetapi, feminisme sebenarnya jauh lebih kompleks dari apa yang bisa dijabarkan oleh saya ataupun sejarahnya, karena feminisme sendiri memiliki berbagai macam sudut pandang, pengertian, dan bersifat aplikatif. Salah satu contohnya adalah penempatan istilah feminisme yang digunakan oleh kaum pecinta alam yang kemudian melahirkan sebuah paham "Eko-Feminisme" yakni sebuah paradigma yang beranggapan jika alam adalah seperti wanita bahkan ibu, karena menyediakan banyak sumber daya dan statusnya yang sangat berharga membuatnya dianggap sebagai perempuan yang harus dijaga dengan baik.
Ada lagi gerakan feminis gelombang ke-4, yakni feminis tiktok, sebuah gerakan yang diimplementasikan dalam aplikasi media sosial bernama "TikTok" atau biasa disingkat TT. Dalam gelombang tersebut seorang feminis akan menunjukan eksistensinya dengan cara mengumbar lekuk tubuh, paras yang menawan dengan bibir pink nan seksi, dan tak lupa lekungan belahan dada. Alhasil, banyak pria yang merasa tertantang rasa seksualitasnya sehingga berusaha untuk mencari seorang wanita lain guna memuaskan seksualnya. Dengan memanfaatkan fenomena tersebut kebanyakan wanita mulai memperbudak kaum pria dengan iming-iming akan dikasih keperawanannya. Maka dari itu, alangkah baiknya untuk segera menguninstal TT sebelum wanita akan mendominasi kaum pria yang akan menciptakan badut-badut baru. TABIK!
BalasHapus