Langsung ke konten utama

Pendidikan yang malu-malu

bagaimana jika saya mengatakan bahwa masalah pendidikan kita adalah karena kita sendiri, sebagai pejabat publik, guru, siswa, orang tua, pembuat kebijakan, atau siapapun yang berkecimpung di dunia pendidikan sebenarnya masih malu-malu untuk menunjukkan keinginannya. 

Ini tidak mengherankan, karena menurut Mochtar Lubis dalam tulisannya telah menjelaskan jika salah satu sifat utama manusia Indonesia adalah hipokrit atau munafik. tapi mungkin bahasa ini terlalu kasar jika saya bawa ke dunia pendidikan, mungkin nanti saya bisa dituduh guru yang tidak tau adap karena menuduh orang lain munafik. makanya, saya gunakan saja kata malu-malu. 

Malu-malu disini sebenarnya adalah merujuk pada arah pendidikan kita sebenarnya mau dibawa kemana sih? apakah mau dibuat orientasinya adalah industri, sehingga kita harus mencetak generasi yang sedari dini di siapkan untuk "disiplin" seperti Jepang atau China? 

atau kita mau meniru gaya-gaya orang Barat (Eropa-Amerika) yang dengan konsep kebebasan dan kesetaraannya dalam pendidikan? sehingga perdebatan keras antara guru dan murid di dalam kelas itu menjadi iklim yang di nantikan? 

sampai detik ini, saya rasa kita masih berdiri tegak diantara keduanya. memang sih, kata orang bijak dulu, sebaik-baiknya jalan adalah yang ditengah. tapi, inilah kekurangannya. kita terlalu lama di tengah, hingga kita tidak pernah beranjak kemanapun. saya rasa, kita harus sudah mulai bisa menentukan sikap, apakah siswa kita mau dijadikan sebagai pegawai yang sesuai standar pasar atau memang kita mau membuat siswa yang kritis dan mungkin akan sangat berani menentang orang yang ada di atasnya sekalipun?

sebelum kalian semua menuduh saya False dichotomy, karena seolah membuat sesuai dengan minat pasar ini berarti menjadi tidak kritis dan pemberani, mari saya jabarkan lebih dahulu alasannya. 

saya mulai saat saya menghadiri kampus ekspo di salah satu sekolah, nampak sekali di sini karena kampus ekspo swasta dan negeri di pisah. 

Hal yang paling terlihat saat menyaksikan kampus ekspo swasta adalah mereka menawarkan kepastian kerja. bahkan banyak kampus swasta yang tidak segan memperlihatkan jaringan industri mereka, bahwa alumnus mereka sangat dinantikan oleh industri-industri mitra. 

Bahkan lebih radikalnya, mereka berani mengklaim jika mereka kuliah di kampus swastanya. hal minimal yang mereka dapat adalah pekerjaan dan maksimalnya adalah menjadi pebisnis. 

Tentu, ini klaim yang tidak sembarangan karena mereka berani memberikan kepastian jika mereka pasti akan mendapatkan kerja setelah lulus. oleh karenanya, mereka juga tidak segan mematok harga tinggi untuk bisa masuk ke kampus swasta mereka. 

Hal ini berbanding terbalik dengan kampus ekspo negeri. dimana narasi pasti diterima kerja itu nyaris tak terdengar, justru yang sering saya dengar adalah jika mereka memamerkan alumni yang berhasil menjadi politisi, menteri, memanerkan fasilitas dan memang lebih banyak soal tips dan trik masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mereka. 

mungkin ini karena mereka sudah banyak peminatnya, jadi tanpa harus panjang lebar, mereka tentu akan sangat penuh peminatnya.

Lalu akhirnya saya mencoba mengingat kembali saat dulu saya menjadi mahasiswa baru (maba) di salah satu PTN. 

narasi yang saya dapatkan dulu saat di ospek, tidak lebih dari Tri fungsi mahasiswa. bahwa kita sebagai mahasiswa harus bisa jadi agent of change, social control, iron stock. jika di rangkum, intinya kita harus jadi bermanfaat untuk masyarakat, tidak hanya diri sendiri. 

Alhasil, disinilah justru letak false dichotomy nya. karena mere

Komentar