Langsung ke konten utama

Saya Rindu, Saya yang Bosan

 

Perlu diketahui, sebelum kalian melanjutkan membaca, kalian pastikan tidak membaca tulisan saya yang satu ini dalam kondisi makan. kalau masih ngeyel, ya terserah kalian. 

Saya merasa sekarang memiliki kebiasaan yang buruk, yaitu bawa HP saat ke toilet. bukan untuk apa-apa, hanya saja untuk membunuh rasa bosan yang mungkin menyerang saya saat di toilet. 

Jadi selama kotoran saya bergulir sebelum akhirnya jatuh ke kloset, di saat yang sama pula jempol-jempol saya jatuh ke layar hp yang ada di genggaman saya, untuk melihat info-info random di media sosial. mulai dari tiktok, ke instagram, hingga beralih ke tiktok lagi. sampai akhirnya saya menyadari satu hal, jika dulu saya paling anti pada orang yang boker sambil main hp. kenapa? karena selain kata dokter berlama-lama di kamar mandi bisa meningkatkan resiko wasir, scroll atau nge-game di toilet adalah hal paling absurd yang pernah ada, menurut saya. 

Dalam pikiran saya, bagaimana bisa seseorang bisa menikmati serunya bermain hp, dengan bercampur "aroma sisa kehidupan" yang sudah kita lewati beberapa hari lalu. dan ini juga membuat risih saat membayangkannya dulu, karena kalau kelamaan kan kotorannya bisa kering, sampai susah dibersihkan. jadi menurut saya, ini adalah kegiatan orang aneh. 

Setidaknya, itu yang saya pikirkan dulu. 

Hingga secara tidak sadar, saya melakukan kebiasaan itu sekarang. 

Ya, walaupun belum di tahap bermain game sambil boker, tapi scroll selagi di toilet menurut saya memiliki potensi bahaya yang berkali-kali lipat dibandingkan scroll di tempat biasa. kenapa? 

Sekarang bayangkan, dulu saya seringkali melamun dan memikirkan hal-hal yang sangat random saat sedang boker. mulai dari filsafat hingga yang paling tidak bermanfaat, dan biasanya saya sering menghubung-hubungkannya dengan semua pengetahuan yang saya miliki waktu itu. 

Misalkan saja, konsep yang saya temukan saat boker dulu adalah tentang; bagaimana jika ternyata nepotisme bukanlah sesuatu yang buruk, melainkan itu adalah karakteristik masyarakat kita yang sedari dulu dikuasai sistem feodalisme dengan cukup lama, sehingga warisan ini terbawa sampai sekarang. 

Mulai dari mencari kerja, hingga memilih kelompok untuk mengerjakan tugas, kita pasti akan mencari orang yang "se-frekuensi" kan?

Jangan-jangan selama ini kita memandang fenomena itu buruk dikarenakan kita memakai paradigma yang berbeda. yap, kita pakai paradigma Eropa yang memandang feodalisme sebagai sebuah musuh bersama. kenapa? karena mereka memiliki pengalaman buruk tentang sistem ini di pra-revolusi.

Saya berpikir, poin yang dikutuk oleh sebagian orang pada nepotisme adalah tentang ketakutan mengenai bagaimana jika ternyata orang yang kita pilih atau rekomendasikan ini tidak kompeten? atau tidak melaui alur yang sudah di atur sebagaimana mestinya, hanya karena dia kenalan kita? ya kalau masalahnya begitu, salahnya adalah di sistem rekrutmen yang tidak melalui alurnya, bukan karena kita merekomendasikan kenalan kita. 

Bagaimana jika kita merekomendasikan seseorang karena kita tahu dan percaya pada orang ini, karena tujuannya juga sejalan dengan kita, tapi tetap melalui sistem seleksi yang sudah di atur untuk menguji kemampuannya? 

Sehingga, nepotisme yang kita khawatirkan selama ini, bisa kita ubah menjadi sesuatu yang bisa kita sesuaikan dengan kondisi sosiologis masyarakat kita. dengan gagasan se-ngawur itu, saya sempat PD mau bikin buku saat itu juga. 

Bayangkan, dari melamun dan mencoba konsentrasi saat boker, saya jadi punya cita-cita menulis buku sosiologi. 

Hal ini sudah tidak saya rasakan lagi, semenjak saya sering membawa hp ke toilet. karena setiap kali saya merasa bosan, saya cepat-cepat mengalihkan otak saya untuk mendapatkan dopamin instan dengan scroll di media sosial. akibatnya, otak saya yang sudah merasa tercukupi dopaminnya, merasa sudah tidak perlu lagi capek-capek mencari dopamin lain. 

Coba jika saya tidak membawa hp ke toilet, otak saya pasti kebingungan nyari dopamin, dan akhirnya berusaha keras untuk membuat dirinya sendiri senang dengan me-review Informasi-informasi yang sudah ada di otak, kemudian di olah sebisa mungkin, di sintesiskan, hingga kemudian mendapatkan jawaban atas pertanyaan atau bahkan keresahan selama ini, dan akhirnya otak saya senang. begitu seterusnya. 

Untuk itu, saya merasa mulai merindukan diri saya yang ketika bosan, tidak buru-buru mencari pelarian untuk dapat dopamin secara instan. untuk itu, menurut saya memang kadang kita perlu membuat diri kita sebosan mungkin, dan jangan takut tentang kebosanan. karena ternyata dengan bosan, imajinasi kita bisa semakin liar. 

Syahdan, itu yang mungkin akan saya terapkan ke siswa saya. Jangan pernah takut bosan, jangan buru-buru mengusir rasa bosan, dan sesuatu yang membosankan itu belum tentu sesuatu yang buruk. 

Komentar