Sepi sekali setelah mereka semua memutuskan pulang pada kediaman mereka masing-masing. Dengan berbagai alasan, mereka sangat bersemangat untuk pulang ke tempat yang mereka sebut rumah. Meski masih ada beberapa anak yang memutuskan untuk "tersangkut" dirumah kawan sejalan hingga menetap di Telang, tetap saja kesepian itu tetap hadir karena mereka yang ada disamping saya saat ini, tak sebanyak kemarin.
Entah demi apapun, satu bulan kemarin benar-benar menjadikan saya yang lain. kata mereka, saya telah berubah drastis. Tidak hanya sedikit lebih mesum karena jokes dewasa saya, tingkah laku saya pun sering dianggap tak wajar karena lebih suka pargoy dan sejenisnya ketika gabut. jelas, itu sangat bukan saya.
Saya juga tidak tahu apa yang membuat hal itu terjadi, namun yang jelas setelah tragedi muswa kemarin, saya merasa terlahir kembali. bagaikan sudah mandi di air terjun pensucian, saya merasa sangat lega dan kembali menjadi diri saya sendiri. Diam-diam, senyum saya mulai kembali. Tentu senyum tulus yang selama ini mungkin berusaha saya kubur demi bisa bermain peran dengan baik.
Entahlah, malam inipun saya berusaha untuk menyepi, bahkan saat mas Surya menawari saya tidur di kosnya atau markas PSHT saya tetap menolak dengan alasan-alasan klise.
Lucu sekali memang, tapi memang sepertinya saya membutuhkan sedikit menyepi dari dunia luar yang begitu ramai. saya masih ingin merasakan bagaimana sepi yang benar-benar sepi. Tapi dasar mereka, tentu saja mereka tidak pernah membiarkan saya sendiri walau sudah bilang aman di warkop.
Mungkin kalian akan sedikit mual membaca tulisan ini, karena memang sedikit alay. Tapi jujur saya merasa terharu sekaligus bersalah dengan apa yang sudah terjadi satu tahun kebelakang. Wujud cinta dan sabar yang sebenarnya, adalah mereka.
Tak terhitung mungkin saya dzalim dengan mereka, namun tetap saja mereka tetap hormat dan menurut, setidaknya didepan kami. Walau saya tahu beberapa dari mereka yang sudah ingin menguncir mulut saya karena geram, namun sungkan.
Saya rasa, trlalu jauh jarak yang sudah saya berikan. Hingga baru saya sadari mereka sudah tumbuh dewasa namun tetap saya perlakukan bagaikan seorang bayi mungil yang tak tahu apa-apa. Bahkan pada saat fase melawan khas anak remaja mereka, saya masih saja egois dengan menghantam sifat kanak-kanak mereka.
Saya sadar, harusnya tak begitu. Harusnya cuma perlu saya kikis saja sikap melawan mereka yang sedikit ngelamak itu, toh jika kembali pada quotes yang selalu dibanggakan oleh Hilmy, sampai diabadikan pada punggung jaketnya, mereka hanya belum sadar. Dan ketika mereka sadar, mereka akan datang dengan kesadaran ataupun penyesalan itu.
Naif mungkin, saya juga ragu jika sikap lembut dan tenang saya ini bisa bertahan hingga 3 bulanan. Namun saya terus mencoba agar tidak meledak, bahkan saat semuanya mencoba memantik.
Saya hanya ingin memperbaiki apa yang sudah saya bakar. Mungkin semuanya sudah nampak tidak tertolong, hangus dan nampak hancur, segalanya. Namun saya mencoba untuk terus mengais puing-puing itu dan merawatnya. Membasuh dengan air mata naif saya ini, mumpung masih bisa menetes. Sebelum, keringat amarah congkak saya yang keluar lebih deras daripada air mata itu.
Jika kalian bingung membaca tulisan ini, sabar. karena itu memang tujuan saya, agar kalian merasakan kekalutan pikiran dan emosi saya pada dini hari ini
Teruslah tumbuh dan semoga terus begitu, adik-adik dan kawan-kawanku. Mohon bantuannya.
Komentar
Posting Komentar