Secara bahasa, Feminisme berasal dari bahasa latin yakni Femina yang berarti perempuan dan Isme yang berarti golongan/aliran/paham. Pada awalnya memang feminisme adalah sebuah gerakan yang berupaya untuk melawan pandangan patriarkis mengenai posisi subordinat atau gender ke dua yang terjadi antara tahun 1550-1700 di Inggris. Sedangkan feminisme gelombang kedua dimulai sejak tahun 1960an dan munculnya kelompok-kelompok conscious raising (CR) pada akhir 1960an. Sejak awal perjuangannya hingga kini, Feminisme telah terpecah-pecah menjadi beberapa aliran, adapun aliran yang dimaksud adalah sebagai berikut:
- Feminisme Agama
Fminisme agama adalah aliran Feminisme yang meyakini jika diskriminasi gender bukanlah sifat dan sikap yang diajarkan oleh setiap agama yang ada, entah itu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, atau yang lainnya. Hal ini didasarkan pada anggapan jika Tuhan ataupun Dewa tidak memandang seorang hambanya berdasarkan jenis kelaminnya, melainkan dari ketaatan yang ia miliki.
- Feminisme Liberal.
Seperti namanya, feminisme ini memperjuangkan dan menghendaki kebebasan bagi perempuan dari belenggu diskriminasi gender yang disebut patriarki. Pada aliran Feminisme liberal, fokus utamanya adalah pada kebebasan kaum perempuan untuk mengekspresikan diri dan melakukan apa yang mereka inginkan, adapun negara hanya dipandang sebagai pelindung dan pemenuhan hak atas mereka. Aliran ini sangat menghargai kebebasan dan kepemilikan setiap individu, mulai dari hak lahir maupun secara batin, seperti kebebasan berpolitik, menjabat, berekspresi, bersuara, bebas dari ancaman dan sebagainya. Yang selama ini banyak dipolitisasi oleh kaum patriarki dengan cara mencampur adukan antara seks (jenis kelamin) dan gender.
- Feminisme Radikal
Aliran feminisme yang muncul pada gelombang kedua, yakni pada tahun 1960an. Aliran Feminisme radikal ini menuntut kesetaraan dengan cara melakukan revolusi atau penghapusan segala paham dan bentuk praktik patriarkisme yang selama ini dilakukan oleh masyarakat umum, seperti gender tradisional yang banyak mengekang kebebasan dan hak kaum perempuan, dikriminasi, hingga kampanye anti patriarkisme, dan juga kekerasan seksual kepada seluruh masyarakat luas. Aliran ini tergolong keras karena menuntut sebuah revolusi akan penghilangan ide patriarkisme yang dianggap sebagai masalah utama diskriminasi gender pada masyarakat selama ini.
- Feminisme Sosialis
Aliran ini lahir bertepatan setelah Feminisme radikal muncul, yakni pada tahun 1960-1970an. Aliran ini sekaligus menjadi kritik atas klaim yang diutarakan oleh aliran feminisme radikal, dimana feminisme radikal beranggapan jika masalah utama diskriminasi gender ada pada paham patriarki. Hal ini ditentang oleh aliran feminisme sosialis dimana mereka beranggapan jika masalah yang ada saat ini terletak pada dua hal, yakni sistem ekonomi yang sudah terkapitalisasi yang didalamnya ada peran gender juga paham patriarki. Oleh karenanya, perjuangan Feminisme Sosialis tidak hanya menentang dan menuntut revolusi untuk menghapus segala praktik patriarkisme, namun juga menentang sistem kapitalis. Feminis sosialis berusaha membentangkan sayap perjuangannya dengan mengintegrasikan perjuangan untuk pembebasan perempuan dengan perjuangan melawan sistem penindas lain yang berdasarkan pada ras, kelas atau status ekonomi.
- Feminisme Marxis
Jika feminisme sosialis adalah aliran feminisme yang berpaham kiri, maka aliran yang satu ini adalah aliran feminisme yang lebih kiri dari sosialis. Hal ini karena aliran ini mengkritik semua aliran-aliran feminisme sebelumnya, walaupun tetap mengadaptasi dari beberapa aliran, feminisme marxis lebih menitik beratkan pada filsafat marxisme yang dicetuskan oleh filsuf asal Jerman, Karl Henrich Marx. Karena perjuangannya yang diwarnai dengan semangat marxisme, aliran feminisme ini akhirnya tidak hanya menentang supremasi kaum patriarki namun aliran ini juga berpendapat jika diskriminasi ataupun penindasan yang ada pada masyarakat saat ini adalah akibat dari pembagian kelas yang ada, pada hal ini, perempuan diletakkan pada gender kedua yang mengakibatkan terjadinya ketimpangan sosial dan memunculkan sebuah konflik antar kelas. Feminisme Marxis menganalisis cara-cara bagaimana wanita dieksploitasi melalui kapitalisme dan kepemilikan individual dari properti pribadi. Menurut feminis Marxis, pembebasan wanita hanya dapat dicapai melalui pendepakan sistem kapitalisme dimana mereka merasa sebagian besar buruh wanita tak diberi kompensasi. Feminis Marxis memperluas analisis Marxis tradisional dengan menerapkannya kepada buruh domestik tak dibayar dan hubungannya dengan jenis kelamin. Oleh karenanya, ke-kirian feminisme marxis jauh lebih kiri daripada feminisme sosialis, karena marxis sama sekali tidak mengakui kepemilikan properti atau hak pribadi.
Komentar
Posting Komentar