Langsung ke konten utama

Feminislam

Perjuangan kaum perempuan dalam feminisme adalah perjuangan menuntut kesetaraan gender, bukan malah menjadi perjuangan supremasi atau bermaksud mengungguli kaum pria, hingga menyalahi kodrat seorang wanita. Feminisme lahir dikarenakan wanita kerap menjadi kelas kedua dalam gender hingga pada kasus yang lebih ekstrim, wanita tidak boleh mengenyam pendidikan, mendapat porsi dan hak suara yang sama dengan lelaki. Adapun pengertian dari gender sendiri adalah sebuah produk dari konsensus masyarakat, dimana gender berkonsentrasi pada aspek sosial, budaya, hingga psikologis pada suatu masyarakat. Berbeda dengan seks yang memiliki arti jenis kelamin, dimana artinya seks adalah sebuah takdir dan pembedaan yang ada pada seks masih bisa diterima seperti anatomi tubuh dan aspek biologis hingga kimia yang ada pada pria dan wanita.

Karena merupakan sebuah gerakan yang menuntut revolusi, feminisme tidak selalu berjalan mulus bahkan justru banyak yang menentang. Hingga yang baru-baru ini terjadi, di Indonesia muncul sebuah gerakan dan stigma jika Islam melarang sebuah paham atau gerakan feminisme. Sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia, stigma ini tentu memiliki dampak yang cukup besar, lantas benarkah jika Islam itu anti feminis ataukah sebaliknya?

Stigma Islam anti feminis ini akhirnya melahirkan pandangan jika Islam adalah agama yang melarang perempuan memiliki hak yang sama dengan lelaki secara gender atau aspek sosial, budaya dan psikologi. Hal ini pada akhirnya menjadikan kontradiksi dengan sifat agama Islam yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta). 

Kenyataann yang ada adalah tidak demikian, meskipun Islam tidak mengenal dan menggunakan kata Gender, dalam banyak literatur Islam seperti kitab Ulama, Al-Quran hingga Hadist, ditemukan banyak sekali keterangan terkait penempatan posisi dan hak bagi seorang pria dan wanita itu adalah sama. Hal paling dasar adalah terkait penentuan surga dan neraka, kedua tempat ini sama sekali tidak ditentukan berdasarkan jenis kelamin atau konsesus masyarakat yang disebut gender. Hal yang menentukan seseorang masuk neraka ataupun surga dilihat dari amal ibadah dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Hal serupa juga bisa ditemukan pada surah Al-Hujurat ayat 13 dan juga surat-surat yang lainnya

Tidak hanya mengenai kesetaraan gender, Bahkan dalam Al-Quran dan Hadist, banyak ditemukan bukti jika Islam mengistimewakan perempuan, bukti terbesarnya adalah ketika Al-Quran memberikan nama salah satu suratnya dengan sebutan "An-Nisa" yang berarti "perempuan", ketentuan syariat yang mengistimewakan wanita yang lainnya adalah perempuan tidak perlu mengganti sholatnya ketika dirinya mengalami haid atau nifas, dan adapun ketentuan yang mengharuskan perempuan memakai hijab atau kain yang menutupi seluruh tubuh dan lekuk-lekuknya bukanlah upaya pengekangan perempuan mulsim, melainkan wujud cinta kasih dan kepedulian Allah SWT melalui Islam kepada perempuan. 

Hal yang berkembang dan berhembus kencang saat ini adalah isu mengenai hijab dan anjuran wanita tidak keluar rumah adalah sebuah upaya pengekangan kebebasan berekspresi dan menyalahi Hak Asasi Manusia (HAM), padahal hijab dan anjuran wanita tidak keluar rumah/terlihat adalah wujud Islam melindungi dan mengistimewakan kaum perempuan dari pandangan buruk si mata keranjang karena lekuk tubuh perempuan. 

Hijab dan anjuran tidak keluar rumah (kecuali bersama mahram) juga bisa diartikan sebagai pelindung wanita dari eksploitasi yang gencar dilakukan oleh beberapa oknum di pasar modern saat ini, seperti yang kita lihat banyak sekali wanita yang telah dieksploitasi dan "diperjual-belikan" sebagai komoditas kapitalis modern. Hal ini bisa dilihat dari aspek paling sederhana ketika wanita disandingkan dengan simbol keindahan, kecantikan, kemewahan, hingga kesuksesan pada sebuah iklan riasan wajah, produk perawatan, ponsel, hingga perabotan-perabotan rumah. 

Sebenarnya hal ini bukanlah kejutan atau hal baru, karena sudah sejak lama wanita dipandang sebagai "komoditas" hingga dieksploitasi kecantikannya. Bahkan sejak zaman sebelum kemerdekaan ataupun zaman lebih tua daripada itu, wanita telah dipandang sebagai "simbol" kekuasaan dan kesuksesan, misalkan saja ketika Bung Karno memilih untuk berpoligami, hal ini dilakukannya demi membangun karisma pria dan penguasa sejati. Maka sudah jelas mengapa raja terdahulu banyak dikelilingi oleh wanita, entah itu selir ataupun permaisuri. Karena sudah sejak lama wanita dipandang sebagai "simbol" kekuasaan, layaknya harta. Maka semakin besar kekuasaanmu, akan semakin banyak dan cantik pula wanitamu, termasuk juga dengan hartanya.

Eksploitasi yang paling mencolok dari diri wanita lainnya adalah ketika wanita diposisikan sebagai sales promotion girl (SPG), wanita dalam kasus ini benar-benar dijadikan penentu kekuatan marketing perusahaan, melalui riasan yang sangat mencolok dan menarik.

Sayangnya, riasan mencolok dan menarik ini biasanya tak lepas dari kesan dewasa seperti pemakaian make-up tebal, rok dan pakaian mini. Dengan segala riasan yang dianggap "menarik perhatian" pria dewasa ini, akhirnya membuat perempuan seolah menjadi daun selada ditengah lalapan ikan, ya, hanya berfungsi sebagai hiasan agar lalapan terlihat menarik dan bernilai jual tinggi.

Lagipula, jika kebebasan berekspresi dan modernitas diukur dari seberapa terbukanya pakaian seseorang, itu berarti binatang sudah menduduki puncak peradaban.

Syahdan, Islam sudah mengatur agar kecantikan perempuan tetap terjaga dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang berhak (mahram), memangnya kalian rela membiayai skincare istrimu hanya untuk dinikmati mata-mata jalang diluar? Ya terserah sih...

Komentar