Dulu, ayah selalu bilang, jika lelaki selalu menggunakan cara-cara mudah untuk menyelesaikan masalah.
Bertarung adalah salah satunya.
Aku bingung, kenapa lelaki memilih jalur kekerasan?
Kenapa tidak mencoba berdiplomasi.
Tidak, Itu bohong. Dulu aku belum mengenal kata diplomasi.
Maksudku kenapa tidak mencoba berbicara terlebih dahulu? Menyelesaikannya secara kekeluargaan?
Akhir-akhir ini aku mulai belajar tentang pikiran massa kecilku dulu.
Pikiran yang mengganggu tidur siangku bersama ibu, yah.
Ibu memang terbaik, ia selalu berkata agar aku tidak membuat masalah, menghindari kekerasan, konflik dan pertikaian.
Ibu selalu berkata jika masalah tidak akan datang kalau kita tidak membuatnya. Berbanding terbalik dengan ayah, yang selalu berkata jika hidup akan dipenuhi masalah, maka kita harus menghadapinya.
Lalu aku bingung, apakah dunia akan sedistopia kata ayah atau seutopia kata ibu?
Saya bingung, aku bingung bu! yah!
Dunia ini tidak serumit dan sesederhana penjelasan kalian! Aku bingung yah! Aku sakit bu!
Tolong rangkul aku! Kenapa aku jadi seperti ini, apa yang salah?
Kini aku sudah beranjak remaja, aku sudah mulai mengenal sakit dan berteman dengan luka.
Kini aku bingung lagi, kenapa aku jadi tidak menurut kata ibu dan menjadi arogan.
Maaf bu, aku berkelahi tadi
Maaf bu, tanganku berdarah lagi
Maaf bu, mulut dan mataku lebam lagi,
Celanaku kumal, bajuku sobek
Namun kau tetap menjahit, benang habis dan kau ganti dengan air mata.
Air mata kasih dan sayang, yang kini membesarkanku menjadi pria yang menurut mereka bijaksana
Penuh kasih dan menghindari masalah, persis seperti kata ibu.
Tapi yah, kenapa saat aku baik, mereka mempermainkanku?
Bukan, ini bukan baik. Ini lembek!
Maaf yah, aku jadi seperti lilin, plester, dan keset!
Sial! Aku lupa, sejak kapan jadi begini!
Aaarrgghhh.....!!!
Maafkan aku, yah, bu. Aku masih bingung!
Komentar
Posting Komentar