Langsung ke konten utama

Dari Ngalian ke Sendowo: Celoteh Nenek Dalam Perjalanan

Judul : Dari Ngalian ke Sendowo

Penulis : Nh. Dini

Halaman : 268

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan ke-1 : 2015

ISBN : 978–602–03–1651–2


Benar perkataan Jhony English tentang usia senja yang berbunyi "tua akan memberimu kebijaksanaan", dan itulah yang saya lihat dari sosok Nurhayati Sri Handayani. Seorang sastrawan senior yang karyanya sudah cukup banyak, dan sayangnya saya baru membaca satu dari sekian banyak karyanya. 

Jujur, saya kurang tertarik membaca karta beliau yang satu ini, karena mulai dari gaya kepenulisan, alur, dan juga sampul bukunya saja sudah mencerminkan seorang nenek-nenek 60 tahun yang seolah ingin bercerita dalam bukunya ini. 

Buku bersampul rangkaian bunga dengan warna merah mudah ini membuat saya hampir terlelap dalam tidur pada setiap saya membacanya. Akan tetapi, saya tetap menaruh kagum pada sosok beliau. 

Beliau adalah sosok wanita yang menurut saya berhasil mendidik anak-anaknya hingga sukses, hingga salah satu anaknya berhasil menjadi sutradara film kartun 3D terkenal, yakni Despicable Me. Yeah, si kuning minion dan Gru yang botak, anak Dini inilah yang men-sutradarai. 

Secara garis besar, buku ini menceritakan pengalaman hidup Nh. Dini saat dirinya menjadi penulis dan isinya tak lebih dari celotehan dirinya, bagaimana kerasnya nasib sebagai seorang sastrawan yang notabenenya kurang diperhatikan oleh pemerintah dalam segi kesejahteraan.

Nh. Dini seperti mengajak saya untuk mengenang almarhumah nenek saya yang suka sekali cerita tentang massa lalunya, karena dalam setiap cerita ini, dirinya memberikan gambaran yang sangat detail dari setiap perjalanan yang ia tempuh. 

Selain penggambarannya yang begitu rinci sehingga membuat pembaca dapat memahami apa yang Dini rasakan dan lakukan pada waktu itu. Dirinya juga menyelipkan beberapa nasihat dan juga pelajaran hidup, khas nenek 60 tahunan. Nasihat yang seperti terkandung dalam halaman 54, tentang orang yang kerap melakukan kontemplasi biasanya peka terhadap lingkungan sekitar karena kerap menyepi dan juga mengawasi dalam sunyi. 

Nh. Dini juga sempat memancing emosi kesedihan saya saat dirinya menceritakan dirinya mulai kehilangan orang-orang tersayangnya di usianya yang sudah senja, saya teringat kembali kepada nenek saya dan saya tau benar bagaimana kehilangan orang yang kita anggap istimewa, apalagi orang tersebut sudah benar-benar berpisah dengan kita dalam dunia ini. 

Entah karena faktor usia atau memang teknik kepenulisan Nh. Dini seperti terkesan terlalu baku dan rinci membuat saya sedikit bosan saat membaca karyanya. Buku ini cocok dibaca untuk orang yang baru sekali terjun pada dunia membaca sastra pernofelan, namun jika pembaca mencari kepuasan dengan cara berharap akan banyak konfilk yang terjadi, maka bisa saya pastikan pembaca akan kecewa karena hampir bisa dikatakan tidak ada konflik yang menarik dalam cerita ini. 

Melihat curahan Nh. Dini yang seolah menyentuh hati saya ini membuat hati saya sedikit tergugah karena mengetahui menjadi seorang penulis bukanlah profesi yang menjanjikan, penulis merupakan sebuah pengabdian dan bukti nyata dari sebuah perlawanan. Karena penulis hanya memperoleh 10% dari total penjualan, maka sungguh tidak keren ketika penghasilan penulis yang begitu sedikit ini, kemudian karyanya dijiplak dan dicetak kemudian dijual di pasar-pasar dengan harga yang lebih murah. Saya berharap melalui buku ini, setidaknya bisa mengurangi peredaran buku-buku bajakan, demi melestarikan dan membantu perjuangan sastrawan dan penulis untuk meningkatkan kualitas literasi dan minat baca di Indonesia. 

Komentar