Langsung ke konten utama

The Trial Proses : Ketok Palu, Menggebrak Hukum Dunia!

Judul                : The Trial / Proses

Penulis             : Franz Kafka (Penerjemah Sigit Susanto)

Halaman         : 251

Penerbit          : 2016

Cetakan           : 1

ISBN                 : 978-602-03-2895-9


Berbicara tentang keadilan pada sebuah sistem hukum negara mungkin tidak akan pernah ada habisnya dan akan terus melahirkan perdebatan-perdebatan yang rumit. Nah, kerumitan dan ketidakjelasan inilah yang mungkin ingin dijelaskan oleh seorang penulis bernama Franz Kafka, yang menorehkan tinta hasil buah pemikirannya yang berjudul "The Trial Proses"

Buku ini sebenarnya adalah buku yang tidak pernah selesai karena si penulis meninggal sebelum menyelesaikan maha karyanya ini, namun sahabatnya yang bernama Marx Brod menemukan kumpulan naskahnya yang berserak dimeja Franz, dan Brod sebenarnya diperintahkan untuk membakar naskah-naskah ini oleh Franz, akan tetapi dirinya mengingkari perintah Franz dan malah menerbitkannya pada tahun 1925.

Buku yang memiliki latar belakang waktu penulisan 1914-1915 ini memang kental akan konflik batin yang mungkin saja dirasakan oleh pembaca ketika membaca buku ini. 

Pada awal paragraf buku ini saja tidak ada pendahuluan atau bahkan orientasi seperti kebanyakan novel pada umumnya, pengenalan tokoh pada novel ini bisa dibilang sedikit tersirat yang membuat pembaca akan berpikir keras untuk menerka-nerka. Salah satunya adalah pembahasan awal pada bab 1 yang tiba-tiba menghadirkan sosok tokoh utama yakni Josef K, seorang manager di suatu Bank yang ditangkap di apartemennya tanpa tuduhan yang jelas. Jelas saja Josef K terus melawan dan ngeyel jika dirinya tidak melakukan kejahatan, akan tetapi dirinya tetap saja dipaksa untuk dijebloskan kedalam penjara.

Setelah dirinya dijebloskan ke penjara, inilah awal mulanya dirinya dihadapkan pada sebuah kenyataan menjijikkan tepat dimatanya, pada bagian inilah Josef K akhirnya mengetahui segala borok yang selama ini digembor-gemborkan dengan sebutan hukum dan diikuti dengan imbuhan keadilan. 

Josef K benar-benar tercengang setelah melihat begitu kotornya proses pengadilan dan juga hukum yang berjalan di kotanya tersebut, dalam novel tersebut digambarkan secara gamblang tentang skandal pengadilan yang terjadi pada kota itu seperti proses persidangan dan hukum yang tidak jelas, dapat dipengaruhi oleh orang dalam dan skandal lain yang bisa anda lihat sendiri setelah membaca buku ini. 

Pada akhirnya, Josef K seolah pasrah akan putusan hakim karena proses peradilannya memang tidak jelas, dan karena proses peradilan yang tidak jelas dan lama inilah yanv kemudian menjadikan Josef K tau akan skandal-skandal hukum yang ada di kotanya. 

Jika melihat dari tahun penulisan yakni pada tahun 1914-1915 yang mesih kental dengan suasana perang dunia pertama, mungkin saja Franz ingin mencurahkan keluh kesahnya tentang kacaunya sistem hukum pada massa itu, karena pada situasi perang ini hukum menjadi sangat tidak jelas dan jelas berat sebelah. Pada salah satu scenes dari buku karya Pramodya Anantatoer yang berjudul Bumi Manusia pun juga diceritakan bagaimana kondisi pengadilan dan hukum pada massa kolonialisme yang cenderung menguntungkan kaum kulit putih atau penjajah daripada pribumi yang memiliki hak akan tanahnya sendiri. 

Mungkin saja, Franz memiliki missi yang sama dengan Pramodya yang ingin menunjukan bagaimana bobroknya sistem peradilan dan hukum pada suatu bangsa yang sedang mengalami peperangan. 

Mengenai penilaiam subjektif saya terkait buku ini adalah seperti yang saya katakan pada awal paragraf tadi, jima buku ini memiliki gaya kepenulisannya sendiri, yakni pengenalan tokoh yang dimulai dari bab 1 hingga bab 3 namun dengan cara tersirat, menggunakan 3 sudut pandang sekaligus yakni sudut pandang orang pertama, kedua, dan ketiga, yang tentu saja semakin membuat buku ini membingungkan bagi orang yang baru dalam membaca novel. Mungkin saja Franz berniat mendesain buku ini dengan sudut pandang yang dibentur-benturkan, pengenalan tokoh yang frontal demi melengkapi citra hukum rumit yang dibawakannya dalam cerita ini. 

Terlepas dalam segala kerumitan dan teka-tekinya, buku ini memang benar-benar buku berbahaya menurut saya, terbukti jika sang penulis Franz saja menyuruh temannya untuk membakar semua naskah dan bukunya yang telah terbit, namun siapa sangka sang sahabat malah menerbitkan buku terakhir milik sahabatnya ini yang kemudian menyabet penghargaan Le Monde's 100 books of the century dan best German novels of the twentieth century pada tahun 1990.

Syahdan, mengenai tips yang bisa saya berikan kepada orang yang akan dan ingin membaca buku ini adalah jangan patah semangat dan terus saja baca walaupun kalian tidak mengerti apa yang dimaksud pada kalimat atau paragraf tersebut, karena memang teknik penulisan yang terkesan frontal tanpa perkenalan yang halus ini pasti akan membuat beberapa orang bingung, tapi jika kamu berhenti membaca karena tidak paham pada satu bab pembahasan maka kamu tidak akan pernah tau bagaimana kelanjutan ceritanya, akan tetapi jika kalian memaksa untuk membaca, niscaya kalian akan menemukan jawabannya pada kalimat dan juga bab-bab selanjutnya, dan untuk rekomendasi usia, saya hanya bisa memberikan batasan usia minimal remaja akhir untuk bisa menikmati buku ini, karena ada beberapa adegan pada buku ini yang kurang baik dikonsumsi oleh anak dibawah usia remaja akhir. Selain itu, ini adalah buku terjemahan yang jelas sekali akan membuat beberapa pembaca sedikit kebingungan.


Komentar