Masuk kedalam Universitas dan menyandang gelar Mahasiswa merupakan dambaan bagi setiap remaja yang telah usai menyelesaikan studinya di massa putih abu-abu.
Memang gelar mahasiswa terkesan keren, karena dalam stratifikasi sosial, Mahasiswa tergolong kalangan menengah keatas setelah pengusaha. Namun tak banyak yang menyadari, menyandang gelar mahasiswa juga memberikan tekanan untuk beberapa orang, karena mindset beberapa masyarakat yang masih terbuai oleh idealis kapitalis menuntut bahwa menyandang gelar mahasiswa adalah suatu jaminan gemilang dimasa mendatang.
Padahal premis tersebut tidak bisa dipukul ratakan kepada setiap mahasiswa, karena kesuksesan seseorang tergantung kepada takdirnya yang telah ditetapkan oleh tuhan bagi mereka yang beriman, dan tergantung kepada usaha yang mereka lakukan bagi setiap mereka yang berpikir rasional.
Fenomena tersebut menjadi unik karena dewasa ini tak senang untuk menyandang gelar mahasiswa, saya sendiripun masih lebih suka disebut siswa. Dimana belum ada tuntutan yang memberatkan pikiran yang sudah dikacaukan oleh kehidupan kampus apalagi oleh tuntutan Tri Darma Mahasiswa.
Kita dituntut dapat mengatasi segala peemasalahan, tak hanya persoalan personal, juga persoalan masyarakat bahkan negara.
"Kita adalah agen of change! Tak seharusnya kita sebagai mahasiswa hanya hidup dalam kamar kos dan mengikuti perkuliahan saja! Saat negara sedang sakit! Maka saatnya kita turun kejalan!" Orasi tersebut terdengar sangat idealis ditelinga kami para MABA yang masih kebingungan akan tugas kami sebagai mahasiswa.
Mahasiswa baru adalah sasaran empuk bagi beberapa oknum, karena tidak sedikit banyak Maba yang melakukan demo massa bermodalkan ikut-ikutan tanpa memiliki dasar yang kuat atas tuntutannya, melainkan hanya untuk memenuhi eksistensi insta story belaka.
Masih hangat dibenak kita tentang aksi turun kejalan mahasiswa yang menolak pengesahan RKUHP yang terkesan ngawur. Banyak mahasiswa yang memanfaatkan momen tersebut sebagai ajang adu caption melalui selembar kertas demo yang di junjung kesana kemari.
Kerap aksi tersebut diwarnai dengan aksi konyol pendemo dari kalangan mahasiswa yang membawa kertas demo dan hanya menginginkan mencari spot foto yang bermutu.
Menurut saya itu bukanlah aksi, tapi hanya keinginan dalam memenuhi eksistensi ketenaran.
Aksi-aksi tersebut terkesan lucu dan ironi, karena yang sekarang mereka tuntut yang sekarang sedang duduk dikursi empuk DPR adalah orang-orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan sekarang ini. Mereka juga kerap berdemo hingga larut malam, sebut saja beberapa orang yang ada diatas sana adalah alumni mahasiswa aktivis yang kerap melakukan demonstrasi dan orasi yang berisi sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam peristiwa 1998.
Dan bagaimana bisa kita yang sekarang sedang berteriak dalam rangka memperjuangkan keadilan bagi masyarakat, dan hanya melakukan aksi selama satu sampai 3 hari yakin bahwa idealisme kita tidak akan terbeli oleh iming-iming jabatan dan gaji buta. Mereka saja yang kerap melakukan aksi besar-besaran dikala itu.
Aku benci disebut mahasiswa! Karena mahasiswa selalu membicarakan sesuatu yang terkesan idealis, bahkan terlalu utopis dan sukar sekali untuk diwujudkan. Mereka ingin merubah tatanan negara yang bobrok, yang dinilai telah melenceng kepada tujuan utama negara Indonesia. Namun mereka tak sadar telah menjadi bobrok dengan tidak mengikuti kegiatan perkuliahan dikelas dengan dalih membela masyarakat, melawan dan membantah dosen, namun terkadang menjilat pantat dosen dengan harapan mendapat Nilai A.
Pada akhirnya, saat sudah semester tua barulah tersadar bahwa kita tidaklah mendapatkan apa-apa selama ada diperkuliahan, akhirnya mereka mencoba mengikuti beberapa organisasi dan terjebak dalam politik praktis dalam kampus yang tentu saja sama bobroknya dengan politik praktis di suatu negara. Merek saling senggol, menerkam, dan memakan saudaranya sendiri, siapa yang kuat itu yang menang. Hukum manusia tak lagi berlaku, Homo Homini Lupus pun terlihat pada massa ini. Semua idealisme mengenai peradilan hanya terkesan Omong Kosong, semua yang diperjuangkan sia-sia.
Jika ditanya "mengapa ikut politik kampus?" Mereka pasti menjawab "membangun relasi dan mencari ilmu yang tidak didapat dalam perkuliahan" yang kemudian generasi inilah yang akan menggantikan generasi yang didemo oleh mahasiswa-mahasiswa selanjutnya.
Sehingga semua hanya terkesan seperti siklus dialegtika yang kemudian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya mahasiswalah yang menjadi borok atas setiap kebobrokan negara.
Maka dari itu, panggil saja aku siswa kampus paman.
Komentar
Posting Komentar