Langsung ke konten utama

Postingan

Pura-Pura Puasa!

Saya merasa beruntung karena diberi kesempatan hidup lebih lama hingga dapat memeluk agama yang familiar dengan istilah rahmatan lil'alamin  (rahmat bagi semesta alam). Karena setidaknya dalam agama ini, saya merasakan banyak sekali benefit yang bisa saya dapatkan. Salah satunya adalah puasa. Kenapa saya bisa mengatakan puasa adalah benefit yang diberikan oleh agama Islam? Hal ini dikarenakan, puasa saya anggap tidak hanya sebagai momen euforia satu tahun sekali yang bisa kita gunakan untuk hunting pahala besar²an dengan tadarus, tarawih, atau ibadah² tambahan yang hanya ada di bulan ramadan saja. Melainkan saya sudah cukup bersyukur hanya dengan puasa saja. "Loh bang, kan yang puasa bukan cuma orang Islam aja?" Iya..iyaa.. kalem dong! Kita kesampingkan dulu itu, nanti kapan² kita bahas, karena terlalu panjang kalau kita bahas konteks puasa tersebut. Saya ingin mengutarakan apa yang menjadi keluh kesah saya selama menjalani puasa beberapa tahun ini.  Selain vi...

Transformasi Sosial

Transformasi sosial  adalah perubahan signifikan dalam struktur dan pola sosial masyarakat akibat perkembangan teknologi, ekonomi, dan budaya. Di era globalisasi digital, transformasi ini terjadi dengan cepat karena kemajuan internet, media sosial, dan teknologi digital lainnya. Transformasi ini memengaruhi cara orang berinteraksi, bekerja, belajar, dan mengonsumsi informasi.  Berbeda dengan  perubahan sosial  yang memiliki perubahan yang berproses/terus menerus, transformasi sosial adalah perubahan yang terjadi dengan waktu yang cukup cepat, dan mendesak. Misalnya saat kemarin kita mengalami pandemi Covid'19, semua aktivitas "dipaksa" untuk melakukannya dari rumah atau  work from home (WFH).  Disitu, kita mengenal aplikasi zoom, gmeet, google classroom dan sejenisnya. Itu merupakan contoh transformasi. Penyebab Masalah Sosial dalam Transformasi Sosial Era Digital 1. Perubahan Pola Interaksi Sosial Komunikasi lebih sering dilakukan secara virtua...

Bobroknya Negara, Dapat Dilihat Dari Akademisinya

Tiga kata lucu, Pacta Sunt Servanda.. Setelah sekian lama hiyatus dari isu politik Indonesia karena sangat memuakkan, apalagi setelah ramai isu "Siaran Darurat" garuda biru kemarin, saya akhirnya terpaksa melihat youtube lagi karena sedang ramai di media sosial tentang debat panas Rocky Gerung dengan Lawyer (katanya) kondang yang bernama Silfester Matutina. Tentu bukan hal mengejutkan ketika melihat lawan debat Rocky Gerung berakhir dengan emosi, namun ini "beda" daripada biasanya, karena si lawan debat bung Rocky sampai mengumpat bangs*at, b*ajingan, bo*doh, dan sejenisnya. Padahal, keduanya masih ada di acara Live televisi. Keren sekali Usut punya usut, setelah saya lihat ternyata bung Silfester ini emosi karena beberapa kali bung Rocky ini melempar pertanyaan-pertanyaan yang cenderung menyudutkan bung Silfester. Al hasil, pertikaian tidak bisa terhindarkan, hingga sempat adu mulut keduanya.  Puncak emosi bung Silfester adalah saat bung Rocky ini menan...

Warisi Apinya, Bukan Abunya!

Pernahkah anda membayangkan apa yang akan terjadi jika siswa kelas 10 SMK dipaksa bercengkrama dengan  bocil kelas 6 SD? Jika menurut tuan dan puan sekalian itu adalah hal aneh, maka anda harus mendengarkan cerita saya. Silahkan rebus mie kuah, siapkan cemilan dan seduh teh hangat, karena cerita ini akan sedikit panjang.  Saya mulai dari Hanin, mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) yang cengeng, banyak omong dan bipolar ini sempat bimbang apakah akan mengikuti agenda pertapaan kemarin atau harus memilih bekerja untuk mendapat tambahan uang saku. Hanin yang bingung akhirnya membuat keputusan untuk meninggalkan angan-angan mendapat uang jajan lebih itu karena harus memilih bertapa bersama kami. Selama proses pertapaan kemarin, saya sempat kaget karena kerudungnya tersingkap hingga membuat rambutnya yang mirip klobot jagung menjadi terlihat, usut punya usut, dirinya memiliki phobia yang cukup unik, karena katanya dia takut dengan rambut hitam yang rontok. Oleh karena...

Begitulah

Dari dulu saya membenci perdebatan lelaki dan wanita, pembahasan ihwal gender adalah suatu hal yang bulshit  menurut saya, karena ini hanya tentang stigma masyarakat saja. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya mulai kembali mempertanyakan mengenai hal itu, karena suatu konstruksi sosial biasanya hanya ada karena dua kemungkinan, jika tidak berdasar pengalaman dari banyak orang yang akhirnya menjadi sebuah kesepakatan sosial, ya berarti dari konstruksi yang sengaja dibangun dengan maksud tertentu. Entah ini masuk dalam pengertian yang mana, karena ini memang murni dari kegelisahan hati saya. Tak ada sangkut pautnya dengan keilmuan manapun. Saya mulai pembahasan dengan hal yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan, mengenai isi kepala lelaki. Tak kalah rumitnya dengan isi hati perempuan, lelaki memiliki segudang rahasia yang hanya dia, Tuhan, dan otaknya yang tahu.  Stigma jika lelaki adalah makhluk kuat yang tidak boleh cengeng, seperti yang di dengungkan oleh mbah Te...

Memaafkan

Dulu saat saya masih kecil, saya masih bingung dengan bagaimana sulitnya memaafkan. Hal ini yang membuat saya memandang sebelah mata perihal memaafkan seseorang. Dalam hati saya berkata "apa susahnya memaafkan? Toh , kejadiannya sudah berlalu" Namun seiring berjalannya waktu, ternyata memang ada beberapa kesalahan yang sulit untuk dimaafkan. Mungkin kesalahan seperti anggota keluargamu dilecehkan dan dibunuh, direndahkan di depan khalayak, hingga kesalahan keji lainnya. Dengan membayangkannya saja pasti kita sudah mendidih dibuatnya, apalagi terjadi. Naudzubilla. Oleh karenanya, pada sebuah riwayat ada seorang sahabat yang dijamin masuk surga hanya karena sebelum tidurnya, ia selalu memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim kepadanya. Mulanya, dulu saya mendengar riwayat itu disampaikan oleh kiyai saya, hanya manggut-manggut dan mempraktikkannya secara rutin sebelum tidur. Benar, itu saat usia saya masih 16 tahun. Kini setelah 23 tahun, saya menghirup oksigen yang...

Bom Waktu KUHP Baru Dalam Wajah Diktatoriat Indonesia

Sedih jika melihat fenomena yang terjadi di Indonesia belakangan ini, termasuk mengenai kontroversi disahkannya Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) Indonesia. Hal tersebut disinyalir penyebabnya tak lain adalah mengenai pasal-pasal yang menurut banyak pihak "masih bermasalah" hingga berujung penolakan dengan bentuk demonstrasi, namun pihak Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) masih ngotot mengesahkan RKUHP tersebut. Hingga puncaknya, pada 6 Desember kemarin Rancangan tersebut resmi menjadi KUHP. Hal yang ingin saya soroti bukanlah mengenai pasal-pasal bermasalah yang ada dalam KUHP tersebut, melainkan mengenai gejala sosial Indonesia yang sudah mulai menunjukan jika demokrasi di negara kita hanyalah angan-angan dan omong kosong belaka. Bagaimana tidak? Menilik kasus omnibus law pada 2020 kemarin saja contohnya, banyak serikat buruh dan mahasiswa diberbagai daerah menolak keras mengenai undang-undang cipta kerja (CIPTAKER OMNIBUS LAW)....